81 Tahun Memaknai Kemerdekaan

Esai reflektif tentang kemerdekaan Indonesia yang ke-81, ketimpangan ala Loomba, dan spektakel kekuasaan ala Mbembe di tengah euforia perayaan tahunan.

Visi Milik Rakyat

7 min read

7 min read

81 Tahun Memaknai Kemerdekaan

Suatu peradaban yang ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang diciptakannya adalah peradaban yang dekaden. Suatu peradaban yang menutup mata terhadap masalah-masalah yang paling penting adalah peradaban yang lumpuh. Suatu peradaban yang menggunakan asas-asasnya untuk menipu dan mengelabui adalah peradaban yang sekarat.  - (Discourse On Colonialism - Aime Cesaire)

81 tahun Indonesia dibentuk. Gerakan-gerakan bawah tanah di segala penjuru mengupayakan negeri yang sebelumnya tanpa nama itu lepas dari jerat kolonialisme. Detik-detik kemerdekaan itu, bagi sebagian orang menegangkan, heroik dan tak jarang diingat dengan menitikkan air mata. Bagi sebagian orang lainnya, hal itu biasa saja dan yang lainnya menolak proses integrasi. 

Sikap semacam itu, masih bisa ditemui sekarang. Akumulasi kekerasan-kekerasan psikis, batin dan fisik yang diciptakan negara membuat makna merdeka tak berarti apa-apa. Indeks gini yang kian meninggi menimbulkan corak yang tak jauh beda dengan masa pemerintahan kolonial. Kekayaan terpusat di segelintir orang, kebijakan lebih dekat dengan strategi elitis dibanding untuk rakyat, dan program-program pemerintah yang berdasarkan keyakinan saya problematik dan tak jelas visinya untuk apa. 

Ketimpangan-ketimpangan yang tak jauh beda dengan masa pemerintahan kolonial itu dikonfirmasi oleh Loomba sebagai kemerdekaan yang  prematur. Kolonialisme masih terasa, tidak lagi lewat warna kulit, tapi lewat virus-virus yang menjangkiti penguasa di tiap jamannya. 

Merayakan merdeka kian ganjil di umur saya yang ke 27 ini. Apa yang dirayakan? Kenapa bendera merah putih baru dikibarkan ketika bulan memasuki Agustus. Kemanakah nasionalisme (jika memang ada) di hari-hari biasa, dimakan oleh nyaring mesin produksi, knalpot, atau nyaringnya kemiskinan kita? Mengapa kita bisa total ketika merayakan saja? Mengapa kita tidak juga merayakan kekesalan dan kemarahan atas keserampangan penguasa mengatur negara?  

Achille Mbembe mengamati hal yang juga terjadi di negara bekas jajahan, bahwa rezim yang gagal mendistribusikan keadilan sering kali memelihara ketaatan warganya melalui parade, karnaval, dan tontonan yang vulgar. Nasionalisme sengaja direduksi batasnya. Warga negara dikondisikan sedemikian rupa agar partisipasi politik mereka hanya tersalurkan di ruang-ruang seremonial yang aman bagi penguasa. Kita diminta membariskan tubuh, menyanyikan lagu kebangsaan, dan meramaikan perlombaan, sebagai sebuah bentuk ilusi kedaulatan.

Pada titik ini, perayaan kemerdekaan tak ubahnya sebuah obat bius massal. Euforia perayaan sengaja diciptakan semeriah mungkin untuk mendistraksi pandangan kita dari realitas yang lebih gelap. Sembari warga bersorak-sorai merayakan angka 81 tahun di jalan-jalan, kita dibuat lupa pada tanah-tanah ulayat yang dirampas, undang-undang yang disahkan tanpa partisipasi publik, dan penguasaan sumber daya yang terus berputar di lingkaran oligarki.

Dua tahun ini, saya telinga dan mata saya tak pernah damai lagi. Keluh kesah jadi makanan setiap hari. Belum lagi harus mendengar keinginan sendiri yang sungguh abstrak diwujudkan dalam situasi yang kian tak menentu. Hari ini tepat, 17 Agustus 2026, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap rezim hanya mampu menawarkan seremonial-seremonial yang membelalakan mata. 

Di benak saya, yang waktu itu masih sangat remaja, suara drum band menghentak-hentakkan dada saya. “Gila, ini negara yang menjamin masa depanku”. Harapan itu sekadar kapas matang yang dihempas angin, lalu berserakan di jalanan. Aku pun sipemiliknya enggan memungutnya.  Jika dulu bendera yang tiangnya terpacang dalam dada adalah merah putih seutuhnya, maka sekarang yang terpacang adalah bendera untuk setiap keberanian-keberanian memerdekakan pikiran. Ketika visi pemerintah jauh dari agenda kerakyatan, maka visi rakyat perlu dijuangkan. 

Kita tak ingin menjadi pemilik peradaban yang digambarkan Cesaire bukan? Maka jangan diam dan pasarah. Karena kepasrahan adalah senjata penguasa yang secara tidak sadar dititipkan olehnya di dada kita, diam-diam.

Merdeka Merdeka Merdeka Kamerad!

Mencari Topik

Icon

0%

Mencari Topik

Icon

0%