Indonesia Sebagai Imagined Communities & Bagaimana Warga Selalu Terdepan
Esai reflektif tentang Imagined Communities Ben Anderson: kenapa kita mencintai bayangan Indonesia, sementara people power selalu bergerak lebih dulu.
Esai reflektif tentang Imagined Communities Ben Anderson: kenapa kita mencintai bayangan Indonesia, sementara people power selalu bergerak lebih dulu.

Esai reflektif tentang Imagined Communities Ben Anderson, potongan-potongan citra yang kita sebut "Indonesia," dan kenapa people power selalu bergerak lebih dulu dibanding negaranya sendiri.
Ingat kata-kata Love The Country, Hate the goverment? Bisa jadi sebenarnya yang terjadi adalah Love (The Imagination of) The Country, Hate the Goverment. Kalau dipikirkan lebih dalam, mencintai negara adalah hal yang tidak bisa dilakukan begitu saja, tapi mencintai “bayangan-bayangan” kita atas negara barulah logis. Hal itu dijelaskan dalam Imagined Communities oleh Ben Anderson.
Ben Anderson, indonesianis yang pernah dicekal Orde Baru karena menyentuh pemusnahan massal 1965 dan baru bisa kembali ke Indonesia pada 1999, sudah menjelaskan gejala ini puluhan tahun silam.
Dalam Imagined Communities, ia menulis bahwa bangsa dan nasionalisme terbentuk bukan dari kedekatan fisik, melainkan dari bayangan bersama, dari orang-orang yang tak pernah bertemu tapi merasa terikat oleh cerita yang sama. Gerakan anti-kolonial di Indonesia pada dekade 1920-an, ditambah pengamatannya sendiri saat bermukim di sini pada 1961–1966, jadi salah satu bukti utama argumen itu.
Yang menarik dari temuan Anderson bukan cuma konsepnya, tapi detail di lapangan. Ada orang di pelosok Indonesia, dengan masalah struktural menumpuk dan fasilitas timpang jauh dari Jawa, tapi tetap bilang: saya mencintai negeri ini bagaimanapun, keadaan bisa membaik suatu waktu kelak.
Ahmad Yunus menulis hal serupa dalam catatan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa-nya. Di situ ada nasion: orang yang terpisah ribuan kilometer dari apa yang terjadi di pulau lain, tapi tetap merasakan suka-duka menjadi Indonesia, bahkan ketika apa yang "seharusnya" ia terima belum juga sepadan.
Setali tiga uang dengan pertandingan bola. Satu gol saja bisa membuat seluruh kepulauan ini kompak merasa jadi Indonesia, lepas dari apa pun yang sebenarnya lebih esensial, seperti kesejahteraan. Di titik ini saya berhenti sejenak: jangan-jangan yang menyatukan kita selama ini cuma bayangan yang putus-putus, yang kita titipkan pada gambar-gambar alam yang indah, pertandingan yang keren, upacara pembukaan yang menampilkan kesenian daerah, atau prestasi di kancah internasional.
Kita merayakan menjadi Indonesia lewat momen-momen yang, kalau dipikir ulang, sebetulnya cuma zoom out dari apa yang sesungguhnya terjadi secara struktural. Anderson menyebut ini penting, bahwa "apa yang dicetak dan ditampilkan" ikut membentuk imajinasi kolektif. Masalahnya, yang dicetak dan ditampilkan itu tidak pernah utuh. Ia memotong, bukan merangkum.
Ada perasaan ganjil yang belakangan hinggap tiap kali kita mencoba menjaga bayangan itu tetap rapi. Alam rusak, hutan terbakar, ancaman banjir bandang datang bergantian. Ruang hidup masyarakat adat digusur atas nama proyek strategis tanpa imbal yang setara.
Kota-kota makin sumpek dengan manajemen tambal sulam. Kekayaan terpusat di lingkaran yang biasa disebut "YTTA"—yang kenal-kenal saja. Kepastian hukum dan kebebasan berekspresi makin terbatas, sementara ruang-ruang strategis justru diisi orang-orang yang jelas tak kompeten mengurusnya.
Hal-hal krusial yang semestinya jadi tanggung jawab negara ini, pada akhirnya ditanggung sendiri oleh masyarakat dengan kekuatannya sendiri. Persis seperti seratus tahun lalu, dalam catatan Anderson. Gotong royong adalah bentuk Indonesia yang masih bertahan di Imagined Communities, sekaligus bukti bahwa people power selalu lebih dulu bergerak dibanding kompetensi pemerintahannya sendiri.
Sepuluh tahun terakhir memaksa saya berpikir ulang, apa sebenarnya yang membuat Indonesia tetap "Indonesia." Kalau foto-foto yang selama ini kita jadikan bayangan bersama itu ikut rusak—kebakaran hebat di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, atau aksi massa yang berujung korban jiwa—apakah bayangan itu masih bisa dipercaya begitu saja?
Ada pertanyaan yang lebih dasar lagi: seperti apa bayangan kita atas Indonesia di masa depan, dengan segala tindakan yang belakangan diambil? Masih relevankah gambar-gambar lama itu mewakilinya?
Berkaca pada pola masa lalu, kita akan sadar bahwa membayangkan sekaligus melaksanakan "Indonesia" memang dari dulu tidak pernah detail dan tuntas. Zen R.S. pernah menulis esai soal ini lewat kata "d.l.l." dalam teks proklamasi—penanda kecil tapi jujur, bahwa ada keyakinan nanti ada yang lebih mengerti, ada yang paham lah. Sejak awal kita sudah terbiasa mengandalkan gotong royong dan warga-bantu-warga sebagai penutup celah yang semestinya diisi negara.
Celah itu terus ditutup oleh warga sampai sekarang, dengan caranya sendiri. The Innovators Studio pernah membuat prototipe untuk satu ruas jalan di Jakarta agar lebih terintegrasi—inisiatif warga, bukan negara. Ada juga buku yang berkali-kali dituduh "makar," padahal isinya justru solusi: alternatif kebijakan di bidang ekonomi, pendidikan, dan berbagai sektor lain. Sekali lagi, semua digagas warga.
Pola yang sama muncul saat bencana. Aceh dan Sumatera tahun lalu, NTT belakangan ini—responsnya lambat dan seadanya, dilawan lagi oleh inisiatif warga lewat donasi, meski negara akhirnya ikut turun tangan juga. Yang paling ajaib mungkin cerita soal konten Mantapfunny yang diminta takedown dengan sejumlah uang tertentu. Biasanya, uang semacam itu berakhir di kantong pribadi. Kali ini, rekening yang dituju justru rekening donasi.
Warga lagi, warga lagi. Bayangan kita soal Indonesia pelan-pelan berubah, bukan karena negara memperbaiki diri, melainkan karena kita terus merasa "Indonesia" justru pada momen ketika yang seharusnya membantu malah sibuk memprioritaskan hal lain, dan warga maju menggantikannya.
Jadi, apa sebenarnya bayangan kita soal Indonesia yang detail dan cermat itu? Saya masih mencari jawabannya. Yang saya tahu, selama jawabannya terus berupa potongan-potongan gambar yang indah tapi putus-putus, kita akan terus mencintai imajinasi negeri ini—dan terus kecewa pada yang mengurusnya.