Robbi Cerita dari Passar

Dari gudang sepatu online jadi 140 tenant, Co-Founder Rilly Robbi cerita asal-usul The Hallway Space yang lahir dari lorong Pasar Kosambi.

Passar Rami

6 min read

6 min read

Robbi Cerita dari Passar

Mungkin tidak ada yang menyangka perjalanan The Hallway Space dimulai dari sebuah gudang. Pada tahun 2017, Rilly Robbi, Co-Founder The Hallway Space menyewa sebuah lapak di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Robbi memanfaatkan lapak tersebut sebagai gudang untuk sepatu dagangannya. 

“Dulu jualannya memang online, jadi lapak di Pasar Kosambi ini memang difungsikan sebagai gudang. Ternyata lama-lama banyak konsumen yang pengen cobain sepatunya secara langsung. Nah dari kebutuhan itu akhirnya satu lapak dibuka biar orang bisa cobain,” kisah Robbi.

Dari momen tersebut, Robbi membayangkan ada banyak orang yang seperti dirinya. Banyak orang memiliki bisnis kecil yang baru saja bertumbuh. Kondisi bisnisnya masih serba seadanya, bahkan belum bisa menyewa toko. Rata-rata bisnisnya masih berjalan online.

Setelahnya Robbi membayangkan, kalau ada satu area di Pasar Kosambi dipenuhi dengan bisnis kecil yang baru saja tumbuh. Selain karena harga sewa lapak yang relatif murah, pasar sendiri sudah ramai orang. Sehingga pada akhirnya bisnis yang baru dibangun ini bisa mendapatkan kesempatan untuk tumbuh.

“Dulu mikirnya simple aja. Gak semua entrepreneur bisa punya toko. Sewa toko di Bandung bisa terbilang mahal untuk entrepreneur baru. Jadi apa salahnya kita coba manfaatkan pasar tradisional buat jadi lapak brand lokal?” ungkap Robbi.

Brand Lokal dan Komunitas yang Tumbuh di Passar

Pada 2019, akhirnya ada 7 brand yang yakin membuka lapaknya di The Hallway Space. Sebuah tanjakan di lorong Pasar Kosambi, Bandung. 7 tenant ini bisa disebut “gila” karena mampu menerima gagasan liar Robbi. Siapa sangka pada akhirnya hype The Hallway Space mampu mendatangkan konsumen dalam kota, luar kota, hingga mancanegara.

“The Hallway Space ini awalnya cuma 7 tenant. Itu di tahun 2019. Terus akhirnya diresmikan sama Walikota Bandung 1 Oktober 2020, waktu pandemi. Akhirnya lumayan ramai karena banyak campaign yang dibikin. Salah satunya ya #nongkrongdipasar. Ternyata marketnya menerima.”

Robbi sendiri menjelaskan kalau tujuan utama membangun The Hallway Space adalah menciptakan wadah untuk entrepreneur baru. Anak muda yang mau mencoba membuat bisnis, brand, tetapi belum punya tempat untuk offline store. Sehingga, segmentasi market The Hallway Space terbentuk secara natural. Baik oleh brandnya, juga komunitasnya.

“The Hallway Space membawa spirit youth culture. Fokusnya untuk memenuhi kebutuhan anak muda. Termasuk dari hobi, fashion, art & craft, food and beverage, musik, sampai ke kantor. Secara lokasi juga Pasar Kosambi ini ada di tengah-tengah, sangat mungkin untuk dikunjungi dan jadi melting pot.”

Lambat laun, The Hallway Space tumbuh. Asalnya hanya ada 7 tenant, kemudian bertambah menjadi 20 tenant, menjadi 70 tenant, hingga akhirnya sekarang total ada 140 toko. Pertumbuhan ini bukan hanya berasal dari brand saja. Tetapi juga berasal dari aktivitas komunitas yang terjadi di The Hallway Space.

“Banyak event yang dibikin di sini. Bukan cuma Passar Ramai yang sifatnya retail. Tapi ada juga aktivitas pameran, aktivasi komunitas, aktivasi media, prewedding & booklet, workshop, sampai performance. Spirit youth culture harus tetap jadi identitas The Hallway Space,” pungkas Robbi.

Mencari Topik

Icon

0%

Mencari Topik

Icon

0%

Culture Collar Logo

Culture Collar is an Editorial–Experience Creative Lab working across media, design, and cultural research.

© 2026 Culture Collar. All rights reserved

Culture Collar Logo

Culture Collar is an Editorial–Experience Creative Lab working across media, design, and cultural research.

© 2026 Culture Collar. All rights reserved

Culture Collar Logo

Culture Collar is an Editorial–Experience Creative Lab working across media, design, and cultural research.

© 2026 Culture Collar. All rights reserved