Yang Terbang Menuju Matahari: Visi Milik Rakyat
Dari sayap Ikarus yang terbakar matahari sampai pemberontakan Banten 1888 sebuah esai tentang kemerdekaan yang dibajak elite dan visi yang tetap hidup di tangan rakyat.
Dari sayap Ikarus yang terbakar matahari sampai pemberontakan Banten 1888 sebuah esai tentang kemerdekaan yang dibajak elite dan visi yang tetap hidup di tangan rakyat.

Pada November 2025, Andrew McCarthy terjun tepat di dalam piringan matahari. Dengan perhitungan yang presisi, ia berhasil menciptakan gambar yang tak pernah ada dalam bayangan manusia sebelumnya. Sebuah siluet dirinya dengan latar belakang jilatan api yang maha dahsyat. Ia menamai gambarnya The Fall of Icarus.
Pertama melihat gambar itu, membuat saya kembali ingat nukilan puisi karya Ahmad Yulden Erwin, seluruh kegelapan kini menyala, kau tahu, Kekasihku,/seluruh rasa sakit ini merentangkan kedua sayapku,/sebab di sini kaulah lengkung langit dan galaksiku. (Cinta Ikarus). Ikarus, simbol keberanian manusia, dengan sayap yang direkatkan lilin buatan Daidalos, Ikarus menuju bebas. Peringatan sekadar peringatan, bila menggali mungkin, alasan apa yang membuat sebuah firman sang ayah sengaja dipatahkan?
Jika matahari itu kebebasan, maka kehendak bebas adalah Ikarus yang terbang mendekati matahari. Kebebasan adalah barang keramat, khususnya bagi sebuah bangsa. Ia bisa dimiliki, tapi harus ada pantangan-tantangan untuk didapatkan.
Akhir-akhir ini, kita banyak diresahkan oleh pilihan-pilihan ajaib dari pemerintah, di berbagai negara. Dari cara mereka memimpin, merencanakan, dan meraih mimpi besar bangsa, cukup dengan pikiran waras kita bisa menilai bahwa kebebasan yang ia raih untuk bekerja pada banyak orang lebih mirip sebagai fetish pribadi terhadap mimpi-mimpi mereka sendiri. Sehingga yang terjadi bukanlah keterwakilan rakyat dari agenda sebuah bangsa untuk melangkah maju.
Di titik absurd inilah kita perlu mengingat kembali apa yang pernah diutarakan Benedict Anderson dalam Imagined Communities. Bahwa sebuah bangsa sejatinya adalah masyarakat historis—komunitas yang diimajinasikan dan diikat oleh kesadaran bahwa kita sedang berjalan bersama melintasi waktu, berbagi penderitaan, sejarah, dan harapan yang sama. Kemerdekaan dan visi negara bukanlah hak paten milik segelintir elite di ruang sidang, melainkan sebuah imajinasi kolektif yang hidup di kepala rakyat jelata.
Ketika imajinasi itu dibajak oleh penguasa dan kehendak bebas dibungkam, sejarah membuktikan bahwa Ikarus-Ikarus baru akan selalu lahir. Mereka menolak tunduk pada gravitasi kekuasaan dan memilih membuat sayapnya sendiri.
Ingatlah bagaimana Revolusi Prancis meledak pada 1789. Ketika Raja Louis XVI dan kaum bangsawan sibuk mempertahankan privilese dan berpesta di Versailles sementara rakyat kelaparan, rakyat biasa (yang mewakili 97% populasi) memilih untuk menghancurkan tatanan itu. Penyerbuan Penjara Bastille bukanlah semata amuk massa, melainkan deklarasi sadar bahwa rakyat menolak kelaparan di bawah bayang-bayang tirani.
Ikarus-Ikarus ini terus bermanifestasi, merespons tatanan yang menindas di zamannya masing-masing. Pada tahun 1888, ia mewujud dalam kemarahan para petani di Banten yang muak pada arogansi kolonial—sebuah perlawanan dari ladang yang meronta. Di ruang yang berbeda, perlawanan itu menitis pada kapur tulis Tan Malaka. Ia bergerilya di bawah tanah, meyakini bahwa kemerdekaan paling radikal dimulai dari membangun sekolah dan mencerdaskan akar rumput.
Bahkan di era modern, sayap perlawanan itu mengepak dari distorsi gitar dan teriakan anti-fascist sebuah band punk di panggung gigs pinggiran, sebagaimana yang diabadikan dalam dokumenter Wildes Herz (2017).
Mediumnya selalu berganti. Medan tempurnya terus bergeser. Perubahan banyak menemukan cara barunya untuk merebut kembali apa yang tercerabut dari diri kita semerdeka-merdekanya manusia.
Lewat CC Media edisi bulan ini, kita ingin membicarakan mereka. Kita ingin merangkum benang merah bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan panggung politik yang besar; perubahan bisa dan selalu dimulai dari mana saja.
Mereka adalah subjek yang berani terbang menuju matahari. Sayap mereka mungkin terbakar, nama mereka mungkin tidak semuanya tercatat rapi dalam buku teks sejarah, tapi visi mereka tetap hidup dan diteruskan. Sebuah visi milik rakyat.