Melankolia di Kolong Sebungkus Beras Yang Lebih Nyaring daripada Distorsi

Guy Debord pernah menulis bahwa kota tidak hanya dibentuk oleh jalan, gedung, atau peta, melainkan juga oleh bagaimana manusia mengalaminya. Dalam The Society of the Spectacle (1967), ia mengkritik masyarakat modern yang perlahan menjadikan segala hal sebagai tontonan, termasuk ruang publik. Barangkali, kalau Debord yang kutipan nya juga saya baca dalam zine dari gelaran “Melankolia Di Kolong” sempat datang ke Bandung, sore itu ia akan menemukan pengecualian kecil di bawah Jembatan Pasupati.

Orang-orang datang ke sebuah gigs sambil menenteng beras.

Sebagian membawa buku.

Sisanya membawa rasa penasaran.

"Membayangkan orang jalan ke lokasi gigs sambil nenteng beras di kanan dan buku di tangan satunya, itu bukan jalan kaki biasa. Itu psikogeografi baru."

Sulit membantahnya.

Sore itu, kolong Jembatan Pasupati bukan lagi ruang yang dilewati begitu saja. Ia berubah fungsi menjadi tempat orang berkumpul, bertukar cerita, menonton musik, sekaligus bersolidaritas.

Dongker tidak sedang membuat konser.

Mereka sedang menguji apakah sebuah gigs masih bisa menjadi ruang sosial.

Alice membuka sore dengan permainan yang tanpa basa basi,  lalu ZIP mengambil alih. Hardcore mereka terdengar kasar, cepat, namun dengan presisi yang kuat, membuat area depan panggung nyaris tak pernah benar-benar diam. Menjelang petang, Dongker naik.

Distorsi memenuhi kolong beton.

Teriakan bersahutan dari tengah crowd.

Sesekali lingkaran mosh pit terbentuk lalu pecah sendiri.

Tidak ada pagar besi.

Tidak ada jalur khusus tamu.

Tidak ada tribun VIP.

Yang ada hanya jarak beberapa langkah antara penonton dan panggung.

Acara ini memang menjadi bagian dari rangkaian perilisan album terbaru Dongker, Melankolia Radikal. Namun menyebutnya sebagai konser promosi rasanya terlalu sempit.

Di sela sela persiapan acara saya menemui Arno, Vokalis serta Gitaris dari Dongker.

"Awalnya mah ingin silaturahmi," kata Arno.

Ia menjelaskan bahwa single dari album tersebut telah dirilis dan satu lagu lagi akan menyusul. Namun agenda utama mereka bukan mengejar angka pemutaran.

"Kami ingin sowan ke teman-teman yang selama ini ikut ngebesarin Dongker."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi cara mereka mengerjakan acara ini membuat ucapan tersebut terasa masuk akal.

Hampir seluruh proses berlangsung tanpa event organizer.

Perizinan, panggung, logistik hingga urusan teknis dikerjakan bersama orang-orang yang memang sejak awal berada di lingkaran Dongker.

"Semua bareng-bareng. Dari urusan izin sampai operasional dibantu teman-teman. Itu yang paling saya banggakan."

Dalam beberapa tahun terakhir, kata kolektif menjadi istilah yang begitu mudah ditemukan di poster acara. Namun tidak semuanya benar-benar bekerja secara kolektif. Melankolia di Kolong justru memperlihatkan bentuk paling sederhana dari gotong royong: semua orang ikut mengerjakan sesuatu karena merasa memiliki.

Hal serupa terlihat pada ajakan membawa beras dan buku.

Alih-alih menjadikan solidaritas sebagai jargon, Dongker memilih menerjemahkannya menjadi tindakan yang sangat konkret.

"Album ini memang bicara soal itu. Perlawanan selalu butuh bantuan orang lain. Makanya kami ingin orang datang bukan cuma buat nonton."

Pilihan line-up juga bukan kebetulan.

Alice, ZIP, dan Dongker memang memainkan warna musik yang berbeda. Tetapi ketiganya tumbuh dari akar yang sama: punk dan hardcore yang sejak lama akrab dengan budaya swadaya.

"Roots kami memang di punk rock dan hardcore. Jadi kami senang mengundang teman-teman yang semangatnya sama," ujar Arno.

Di Indonesia, semangat seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak era akhir 1990-an hingga awal 2000-an, banyak gigs lahir dari ruang-ruang serupa: lapangan kosong, aula kampus, halaman rumah, sampai gudang yang disulap menjadi venue dadakan. selalu ada orang yang rela mengangkat ampli, menjaga pintu masuk dan Melankolia di Kolong seperti mengingatkan kembali ingatan itu.

Ketika pengalaman hidup digantikan oleh representasi dan citra, Melankolia di Kolong bergerak ke arah yang berlawanan. Barangkali itu sebabnya acara ini terasa tinggal lebih lama di kepala dibanding durasi konsernya sendiri.

Sebab yang dibawa pulang bukan hanya denging di telinga atau video berdurasi tiga puluh detik.

Melainkan kesadaran bahwa sebuah gigs masih bisa menjadi tempat orang saling menjaga.

Dan mungkin, di tengah kota yang semakin sibuk, sekali lagi, ini adalah cara Dongker mengumpat dengan sangat terukur, tabik.

Mencari Topik

Icon

0%

Mencari Topik

Icon

0%