Bandung is Punk Melankolia di Kolong dan Cara Baru Punk Memaknai Kota

Jumat, 17 Juli 2026. Biar aku ceritakan, bagaimana di Taman Sari, scene PUNK Kota Bandung membuktikan bahwa konser tak mustahil digelar hanya dengan modal beras dan buku. Wilujeng lebaran balada Dongkap di kolong jembatan!

Hari itu, ada yang pulang dengan badan pegal, memar di lengan, hingga kepala yang benjol-benjol. Namun, itu semua merupakan buah tangan yang mereka bawa setelah menjadi bagian showcase terbaik tahun ini.“Melankolia di Kolong", bagi saya, adalah persembahan Dongker untuk semangat Jim serta semangat perjuangan di rezim yang pintar menekan tombol mute dengan berbagai cara. 

Dalam diskusi bersama Celios, Kamis lalu, Jim Alberka dalam orasinya mengatakan bahwa perjuangan bisa dalam bentuk apapun, salah satu yang ia pilih adalah panggung musik. Baginya, ruang tersebut menjadi keintiman lain, di mana orang-orang meluapkan keresahan dan kemarahan terhadap rezim, sebelum akhirnya kembali ditelan rutinitas dengan berbagai wajahnya. 

Unacceptable Punk yang Jim gagas dengan semangat solidaritas, menelurkan ide segar, yakni gigs dengan tiket masuk beras. Kabar gigs itu terbaca dan ditanggapi publik sebagai bentuk segar pagelaran musik. Dari panggung punk menjadi gerakan yang menjadi kontra narasi yang dibentuk rezim tentang konsep kedaulatan pangan. Ide jim adalah semangat Bandung yang mungkin sudah lama hilang, lantas beginikah yang disebut Bandung Methods itu.

Dua Jam yang Berharga, Ini Saatnya Mengambil Alih Makna Kota?

Melankolia di Kolong memang hanya berlangsung dua jam. Lebih dari masalah durasi, orang-orang akan mengingatnya sebagai sebuah gerakan kolektif di mana industri musik yang terus dimaknai pasar diambil alih oleh sebuah band punk yang consent pada literasi dan isu sosio-ekonomi-politik. 

Tanpa mengesampingkan Jim sebagai penggagas konsep gigs yang uniknya, Dongker merawat semangat yang Jim punya. Menggelar showcase yang membuat penonton berjejalan sambil membawa sekresek beras dan buku bekas menjadi satu pemandangan yang ganjil dan mengharukan. 

Tak terbayang para penonton yang datang saat itu, mengunjungi warung-warung dekat rumah atau pasar untuk membeli beras dan mengunjungi lagi buku-buku yang mungkin sudah berdebu untuk menukarnya dengan mendengar secara langsung single Lautan Bunga Warna Terang dan band pembuka yang tak kalah hebat.

Yang digerakan bungan cuma imajinasi para penonton, melainkan ada uang yang berputar di masyarakat serta buku yang disalurkan keperpustakaan-perpustakaan yang masih merawat semangat untuk membuat orang mudah mengakses berbagai bacaan.

Dalam kacamata Bordieu apa yang dilakukan oleh Jim (awalnya) dan dilanjutkan Dongker merupakan pertarungan habitus antara masyarakat di akar rumput melawan makna sebuah dunia yang berpuluh tahun dibentuk kapitalisme. Mengembalikan lagi sistem ekonomi barter yang bergeser ketika ukuran negara sukses adalah imajinasi yang dibuat oleh negara barat.  

Bourdieu punya konsep tentang Arena (Field) dan Modal (Capital). Biasanya, dalam industri musik (arena komersial), band butuh modal ekonomi untuk menyewa venue yang proper, dan penonton butuh modal ekonomi (uang) untuk beli tiket.

Nah, apa yang dilakukan Dongker dan Jim lakukan adalah membajak tatanan itu. Mereka menolak tunduk pada arena komersial yang eksklusif, dan menciptakan arena baru di kolong jembatan. Di sini, tiket uang (modal ekonomi) dibuang dan diganti dengan beras serta buku. Ini adalah bentuk pengumpulan Modal Kultural dan Simbolik. 

Dongker dan Jim mengubah ruang marginal menjadi ruang yang sangat bernilai secara sosial. Mereka secara gak langsung ngasih pesan "Kita nggak butuh stadion, hall, SECAPA atau Pussenif untuk bikin sejarah, kita cuma butuh solidaritas."

Cara ini tentu, adalah upaya yang bagus untuk memaknai lagi kota dalam versi yang lebih radikal. Dan Bandung bukan cuma soal hawa atau sudut-sudut yang terus diromantisir. Inilah Bandung yang dikenal di medio-medio perjuangannya. 

Lantas bentuk-bentuk inisiatif semacam ini sangat diperlukan bagi Bandung dan segala teror yang akarnya adalah kemandekan ekonomi. Ketika pemerintah terlihat lemah dalam segala urusannya, mungkin ini bagian kita merawat semangat yang ditularkan Jim dan Dongker di Melankolia di Kolong untuk mengambil alih makna kota. Sehingga, siapapun perlahan sadar, kota ini dibentuk oleh subkultur yang dipacu semangat jaman (zeitgeist) anak muda di Bandung. Terutama scene punk,  Bandung is Punk.

Explore Topics

Icon

0%

Explore Topics

Icon

0%

Culture Collar Logo

Culture Collar is an Editorial–Experience Creative Lab working across media, design, and cultural research.

© 2026 Culture Collar. All rights reserved

Culture Collar Logo

Culture Collar is an Editorial–Experience Creative Lab working across media, design, and cultural research.

© 2026 Culture Collar. All rights reserved

Culture Collar Logo

Culture Collar is an Editorial–Experience Creative Lab working across media, design, and cultural research.

© 2026 Culture Collar. All rights reserved