
Apa yang indah dari pengakuan dosa? Tak pernah ada yang tau. Beberapa kebudayaan mungkin menggambarkannya sebagai surga dengan konsep-konsep idealnya. Saya tak berpikiran ke sana, karena saya lebih suka dengan hukuman apa saja yang bakal saya terima ketika melakukan dosa yang membuat orang-orang merugi. Pikiran apa yang bakal aku keluarkan, mengingat-ingat masa silam yang kelam. Menikmati tubuh dan pikiran saya terbentuk oleh rasa bersalah, luka, dan hal-hal yang saya terima karena salah kaprah mengendarai kehidupan. Mungkin di titik itu aku bisa menilai jalan hidup seperti dalam syair perahu Hamzah Fansuri.
Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.
Siang itu, Kamis (17/7) tak terasa jam digital saya sudah menunjuk pukul 14.10, Matt Damon, pemeran Odyssey bersama Penelopeia berlayar menuju matahari terbenam menjemput ketenangan. Air mata berlinang, tak menetes. Film usai, dan saya bertepuk tangan sendirian sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pasangan saya, mungkin merasa awkward, melihat saya bertepuk tangan di dalam bioskop. Kebiasaan itu memang tak umum di Indonesia, saya mengakuinya, toh di negara ini niat baik seringnya tak disambut dengan apresiasi.
Crishtoper Nolan, dalam film terbarunya ini, lagi-lagi menampilkan pada kita suasa yang mirip sekali dengan sinema yang ia tampilkan di Oppenheimer. Jika, sebelumnya mengulik perjalanan batin dan pikiran Oppenheimer pasca menciptakan bom nuklir. The Odyssey, memberikan impresi pada perjalanan batin dan pemikiran sang jendral perang Troya ketika dikutuk sumpahi Zeus. Semesta cerita yang dialami dunia saat itu, mirip dengan situasi kita saat ini, yakni dunia di ambang kehancuran.
Nonton film itu bikin saya ngebayangin, apa ya yang ada dipikiran pemimpin kita yang termalas ditonton pidatonya itu. Berharap apa kan ya sama penculik. Eh penculik orang jahat bukan sih. Terus sekarang jadi pemimpin bangsa besar, ga pernah merasa salah lagi. Aku sih yakin, para pejabat picik yang mukanya kayak anjing pitbull itu gak percaya tuhan. Kalo percayamah gak mungkin ngejar kasta, kesenangan duniawi, dan tektek bengek yang bikin banyak orang merugi.
The Trial
“A Face, armada, A war, a Man, dewa, tipuan untuk menghancur tembok troya dan pesta berteriak di tanah.”
Film dibuka oleh suara seorang pencerita di tengah aula kerajaan yang muram, pria yang diperankan Travis Scott itu tidak bercerita tentang hal lain, melainkan poin-poin dari kisah yang akan kita tonton selanjutnya. Kemudian, scene bergerak ke sebuah bibir pantai, di mana sebuah kuda Trojan tertancap setengah badan, dijilat-jilat ombak. Di sana Sinon sedang istirah meminum air, tak lama kemudian pasukan Troya datang membunuhnya. Ia tak memohon ampun, tetapi ia mengabarkan pesan bahwa kuda Trojan merupakan hadiah pemberian. Karena Athena melarang niat baik seseorang tidak diterima, maka Trojan pun dibawa ke Troya.
Kisah Kuda Troya ini bukanlah kisah yang dikisahkan dalam The Odyssey karya Homer atau dalam The Iliad. Melainkan kisah lain yang ditulis oleh Virgil dalam puisinya yang bertajuk Aeneid. Di sini etos kreatif Christopher Nolan ditunjukkan, alih-alih membangun semesta cerita melalui buku karya Homer yang notabene merupakan penyair yang melihat kisah Odyssey dari sudut pandang pemenang, ia juga mengambil referensi dari Virgil dalam Aeneid yang mengisahkan peristiwa itu dari sudut pandang korban.
The Odyssey adalah kisah kepulangan seorang raja Ithaca yang bertugas sebagai jendral perang pasukan yang dipimpin Agamemnon. Kemenangan Troya tak lepas dari kecerdikan Odyssey dalam membuat strategi. Kemenangan yang mulus ternyata membuat mereka mematahkan hukum Zeus. Maka para dewa mengujinya di kepulangan. Nolan secara apik menampilkan periodik-periodik kepulangan Odyssey serta keadaan kerajaan Ithaca. Kesan yang ada di benak saya, seperti mengunjungi titik-titik api dari tahun-tahun semesta cerita Odyssey. Rasanya seperti menyelesaikan sebuah novelet dalam waktu hampir 3 jam.
Kesan itu tak lepas dari etos kreatif Nolan dalam mengangkat cerita yang sudah ada. Mengulik sebuah cerita dari berbagai sudut pandang, bagi saya adalah cara paling demokratis untuk memaknai ulang sebuah cerita. Kebenaran bukang timbul dari cara pandang subjektif, melainkan bagaimana tiap agen cerita menjelaskan versi-versinya sehingga memberikan ruang terbuka bagi penonton untuk masyuk ke dalam jalan cerita.
Film ini lahir bukan tanpa kritik. Para pembaca greek myth banyak membincangkan pemilihan cast, terutama pilihan Helen yang diperankan oleh Lupita Nyong’o. Film-film adaptasi selalu berhadapan dengan imajinasi para pembaca. Pertanyaannya kemudian pasti menyoal apakah film tersebut mewakili imajinasi kolektif? Saya adalah orang yang beda pendapat dengan kaum itu, The Odyssey adalah seterang-terangnya cara Chrisopher Nolan dalam membaca Odyssey sebagai tokoh. Poin dari film itu berbicara tentang semua sisi yang membuat kita paling tahu apa yang dipikirkan oleh Odyssey.
Ubermench
Gagasan Ubermench dikenalkan oleh Nietzche sebagai konsep manusia unggul. Secara tekstual, Odyssey diminta untuk menjadi dewa oleh Zeus. Namun, ia menolak. Di perjalanan pulang kita akan lebih banyak melihat Odyssey yang mengingat-ingat masa lalunya sembari dimabukkan bunga teratai pemberian Calypso. Odyssey adalah bentuk dari Ubermench itu.
Jika film itu sebuah pepatah, maka “manusia dibentuk oleh jalan pulang” adalah hal yang jadi kisah penyempurnaan dari Odyssey. Ia beberapa kali mematahkan syarat dan hukum Zeus, salah satunya saat meminta kru kapal untuk mengikatkan dirinya di tiang layar saat melintasi nyanyian Sirens. Alih-alih menjadi seseorang yang dihormati kembali, ia justeru datang sebagai seorang pengemis ke tanah lahirnya.
Ini kenyataan yang sangat kontras dibandingkan situasi saat dia mengatur perang Troya. Odyssey terbilang kejam untuk ukuran jendral yang berhasil meluluh lantakan Troya dan membangkitkan amarah Zeus. Tanpa ujian dari Zeus dan Posseidon di jalan pulang, mungkin Odyssey hanya akan menjadi raja sombong yang pulang ke haribaan sang kekasinya. Ia tidak akan pernah jernih melihat dunia.
Kehendak untuk berani menghadapi kehancuran demi kehancuran, membuat saya banyak belajar bahwa hidup terkadang cuma tentang saya. Kepada orang lain kita hanya mampu memperingatkan. Namun, tanpa ujian mungkin alasan untuk berubah itu tak pernah ada. Maka berbahagaialan manusia yang tengah diuji.
Keluar dari bioskop, seharian saya mencerna apa yang telah saya saksikan. Persoalan maskulinitas yang dirobek-robekkan, eksistensi yang diretakkan, kisah-kisah pemimpin, transendensi, keilahian, dan lain-lain sebagainya. Keluar bioskop, saya tidak bisa langsung menjadi Odyssey, saya masih warga negara yang berdiri di jembatan tali, titian yang salah akan membuat saya terjatuh ke neraka dan titian yang benar tidak akan membawa saya ke surga.
Benak saya berkata, sejauh apakah kita mengirim ujian? Atau gerak kita belum sampai menjadikan ujian? Harus bagaimana kita menciptakan ujian? Tentu tak ada yang tahu, namun poin utamanya setiap jaman diuji dan percaturannya hanya tentang siapa yang bertahan dan siapa yang lebih banyak menguji. ***

