Di berbagai konser, pameran interaktif, perayaan rakyat yang besar dan seru, hingga acara olahraga yang viral, banyak hal yang terbersit di benak saya. Bagaimana jika semua keriuhan yang menyenangkan itu bisa diselenggarakan oleh koperasi?
Di kegiatan seperti itu, para peserta bercengkerama dan mempromosikan acaranya dengan penuh semangat. Sadar atau tidak, mereka mengangkat pamor merek tersebut menjadi semakin besar dan bertindak sebagai advocate of the brand. Bagaimana jadinya jika ekosistem organik ini digerakkan oleh Koperasi Indonesia agar semakin berdaya?
Pikiran tersebut sempat saya simpan dulu di saku. Tentu saja mengingat stereotip bahwa koperasi masih sering diisi oleh orang-orang lama yang kaku dan agak sulit untuk melakukan praktik agile serta shifting. Tidak sedikit yang memandang koperasi sekadar jargon usang, sehingga publik sering menempatkannya sebagai pilihan terakhir dan sangat jauh dari kesan trendi.
Lantas, bagaimana solusi day-to-day yang bisa dilakukan supaya cita-cita Koperasi Indonesia Berjaya itu terwujud?
Hal yang saya bicarakan tadi pada dasarnya adalah kerangka dari sebuah strategi marketing yang paling moncer hari ini: experience economy. Konsep ini sudah lama digagas oleh Harvard Business Review dan sukses menemukan ceruk pasar terbesarnya sekarang, setidaknya untuk satu dekade ke depan. Sehari-hari saya menulis dan bertemu banyak orang dengan satu pertanyaan yang sama. Bagaimana model bisnis pengalaman semacam ini bisa diterima oleh para pegiat senior yang sudah membesarkan koperasi sejak lama?
Dalam sebuah kesempatan, saya berdiskusi dengan seorang tokoh dari generasi Boomer bernama Yoedani. Beliau mengenyam bangku kuliah pada medio 1980-an. Secara teori, ini adalah gap generasi yang sering dibicarakan orang-orang, sebuah situasi di mana Boomer dan Gen-Z diyakini sangat sulit untuk nyambung dalam bertukar gagasan, apalagi sampai tahap eksekusi pengerjaan. Sebelum perjumpaan itu terjadi, saya hanya bersiap memaparkan gagasan tanpa berharap terlalu banyak.
Saya kemudian berkunjung ke IU Coop, lahan aset milik Koperasi Keluarga Besar (KKB) IKOPIN. Di bagian depan terdapat ritel, di sebelah kanannya beroperasi sebuah restoran, sementara area kantinnya juga berjalan sangat hidup. Sejak melihat tampilan fisiknya, saya langsung paham bahwa kapasitas sosok yang mengerjakan proyek ini sangatlah mumpuni. Rekan kerja saya sempat bercerita bahwa tempat ini dulunya terbengkalai dan membutuhkan lebih dari sekadar renovasi fisik semata untuk bisa mewujudkannya. Pemandangan itu adalah hasil kerja keras Yoedani dalam dua tahun terakhir. Sekarang, beliau berencana melangkah lebih jauh lagi untuk mewujudkan model koperasi yang sudah dirancangnya.
Saat presentasi, Yoedani menyampaikan bahwa lahan di depan ritel itu akan disulap menjadi shuttle. Posisi IKOPIN ini sangat strategis karena dikelilingi empat kampus besar (UNPAD, ITB, IPDN, dan IKOPIN sendiri), menjadikannya titik pemberhentian bagi ribuan orang setiap harinya. Shuttle yang tepat akan menjadi penarik traffic utama. Keberadaan ritel, restoran, dan kedai kopi yang sudah beliau bangun adalah bentuk ekosistem awal dalam rancangan Transit-Oriented Development (TOD) sebagai motor penggerak ekonominya. Setelah tahap itu berjalan, beliau menemukan sebuah celah dan menyadari bahwa hal tersebut belumlah cukup. Beliau memiliki keresahan yang membuat saya tertegun saat mendengarnya.
Bagi Yoedani, bisnis yang menguntungkan sudah menjadi urusan biasa. Setelah lulus dari IKOPIN, beliau meniti karier di berbagai bidang hingga sukses dan pensiun. Selama kurun waktu tersebut, beliau terus bergiat di koperasi, salah satunya di IU Coop saat ini. Inisiatifnya sekarang lebih mendasar pada bidang pendidikan koperasi, merujuk langsung pada keresahan utamanya: masa depan generasi muda.
Dalam kerangka berpikir Yoedani, di samping unit bisnis dan aset koperasi yang harus terus berjalan, kesejahteraan dan kapasitas anggota mutlak untuk ditingkatkan. Perbincangan kami membuktikan bahwa masalah klasiknya memang benar adanya. Pelatihan koperasi sering kali berhenti di meja tata kelola dan administrasi keuangan. Sekalinya ada lompatan inovasi, materinya kadang terlalu melangit seperti kecerdasan buatan (AI) padahal belum digunakan secara fungsional, atau masuk ke ranah digitalisasi yang belum terikat dalam satu tujuan sistem yang jelas. Pada akhirnya, berbagai pelatihan canggih tersebut hanya menjadi kegiatan rutinan yang dihadiri oleh segelintir anggota koperasi saja.
Saya kemudian membuka kembali gagasan yang tersimpan di awal tadi dan menyodorkannya kepada Yoedani. Saya memaparkan ide bahwa koperasi sangat mampu menyelenggarakan konser musik. Jika anak muda mencari tempat nobar, mereka harus bisa langsung terpikir pada koperasi alih-alih menghindari citra lamanya. Terlebih lagi, Yoedani sudah memiliki banyak keunggulan. Secara sumber daya manusia, beliau berada di episentrum pembelajar koperasi lewat lembaga utamanya, IKOPIN. Beliau juga sedang membangun fasilitas serta pengelolaan aset yang rapi. Pertanyaan beliau kepada saya waktu itu sangat taktis: bagaimana cara ide tersebut bekerja?
Sebagai studi kasus, saya menyodorkan profil The New Factory dengan produknya, Coppo Board, yang kebetulan profilnya pernah ikut kami rancang. Di sana, Alya dengan sangat lancar menerangkan produk koperasinya yang berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah tekstil, lengkap dengan website yang mentereng. Mendengar paparan itu, Yoedani tampak keheranan sambil melempar dua respons. Beliau bertanya apakah entitas itu benar-benar sebuah koperasi, lalu disusul rasa penasaran tentang bagaimana cara mereka beroperasi.
Momen tersebut terasa seperti sebuah katarsis. Bagi Yoedani, beliau merasa sangat lega melihat wujud nyata sebuah koperasi mutakhir yang dikelola anak muda dengan tampilan matang. Hari itu kami lalui dengan membedah langkah-langkah konkret yang harus dilakukan agar sebuah koperasi bisa tampil segar, kreatif, dan aplikatif dalam keseharian.
Dalam experience economy, aspek penting yang wajib diperhitungkan adalah kesadaran dari para pengelolanya serta tingkat keterlibatan konsumen. Kami kemudian memilih kerangka Objective and Key Results (OKR) untuk menstrukturkan berbagai program di IU Coop. Dari sana, bermunculan inovasi luar biasa yang disambut sangat antusias pada pertemuan berikutnya, yang kali ini turut berdampingan dengan para anggota IU Coop dari generasi saya.
Di titik itulah kami mulai menyusun pemetaan strategis. Koperasi Simpan Pinjam memiliki potensi besar untuk mengadakan konser yang akses tiket masuknya bisa didapat melalui Sisa Hasil Usaha (SHU). Kami menggunakan benchmark dari bisnis perbankan konvensional yang membangun kepercayaan konsumen tidak lagi lewat sekadar jargon, melainkan lewat gelaran pertunjukan yang meriah. Lebih dari itu, mereka membuat konsumennya terlibat langsung. Ditambah dengan arus skena musik Bandung yang kental dengan budaya kolektif, menjadi anggota koperasi dalam sebuah pergerakan musik adalah pilihan rasional yang sangat masuk akal.
Kegiatan utama tersebut kemudian didukung dengan berbagai aktivasi penunjang di sekitarnya. Tujuannya adalah memberi ruang bagi anggota baru untuk mengasah kemampuan sekaligus berpartisipasi langsung dalam roda kegiatan koperasi.
Belum lagi inisiatif acara nobar di area kantin, yang turut ditunjang dengan pop-up market serta instalasi interaktif untuk voting menu di bagian depan. Konsumen dilibatkan secara penuh sejak awal, sejalan dengan prinsip dasar koperasi yang selalu mengedepankan partisipasi setiap anggotanya untuk memilih.
Secara data, konsep ini sudah menunjukkan titik terang yang sangat valid. Gagasan mengenai koperasi yang menggelar festival bertiket sebagai penghasil SHU telah terbukti secara nyata. Mari menengok Co-op Live di Manchester, arena hiburan terbesar di Inggris berkapasitas 23.500 orang yang digerakkan penuh oleh ekosistem koperasi. Pada tahun pertama operasionalnya, arena ini sukses menampung 1,5 juta penonton dan mencetak perputaran ekonomi hingga £1,3 Miliar.
Lantas, dengan dominasi populasi pemuda yang mencapai 64,69 persen di Indonesia, mengapa tingkat partisipasi koperasi kita masih stagnan di angka 8 persen? Pertanyaan inilah yang harus menjadi titik baliknya.
Di luar inisiatif tadi, masih banyak pembaharuan lain yang dipetakan bersama. Ada asrama yang akan diisi dengan berbagai program pengembangan, lengkap dengan tim placemaking yang bertugas menjaga nyawa dari setiap kegiatan di kawasan tersebut.
Saya berulang kali membayangkan jika rentetan hal serupa bisa direplikasi di banyak koperasi di seluruh Indonesia. Cita-cita Koperasi Indonesia yang berdaya dan berjaya amat sangat mungkin terwujud. Koperasi akan kembali dilihat sebagai sesuatu yang keren dan menjadi tren gaya hidup FOMO jika sampai terlewatkan. Yoedani sendiri tersenyum sangat lebar melihat kemajuan progresif ini selama setidaknya empat kali pertemuan kami.
Di titik itu, saya kembali membayangkan keriuhan di berbagai konser, pameran interaktif, perayaan rakyat yang masif, dan acara olahraga yang viral. Kali ini, semua itu sangat mungkin terlaksana dengan nama koperasi berdiri bangga di belakangnya.